Prosiding KAI 2013, hlm. 383-388

Tinjauan Potensi Pengembangan dan Aplikasi Teknologi Budidaya Sidat

Agung Sudaryono1, Sapto P. Putro2 dan Suminto1

1) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang
2) Jurusan Biologi, FSM Universitas Diponegoro Email: agungsoed@yahoo.co.id

Abstract

Agung Sudaryono, Sapto P. Putro and Suminto . 2013. Review of Development Potential and Eel Cultivation Technology Applications. Konferensi Akuakultur Indonesia 2013. Eel is a high economic value aquaculture commodity of Indonesia due to decreasing the global eel seeds production in Europe, Japan, Korea and China. Indonesia has a potency to be the biggest producer of eel in the world where the eel seeds are almost available in over the costal water of Indonesia. Eel has an unique and nice taste with high nutrition contents (Vitamin, EPA, DHA), so that the eel fleshs are loved by Korean, Japanese and Chinese. Indonesia has 7 eel species (Anguilla celebensis, Anguilla borneensis, Anguilla interioris, Anguilla obscura, Anguilla bicolor pasifica, Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla marmorata) of 19 eel species total in the world. Indonesia so far has not have an artificial propagation technology yet for eel. All eel seeds production is obtained from fishing activity only. Artificial feeds for glass eel to elver stadia are still problem to produce and this has resulted in decreasing the eel aquaculture development in Indonesia. A good applied eel aquaculture technology is the key for getting a succes of eel farming from glass eel, elver to adult (200-250 g). Japan is one of countries that leading in intensive eel aquaculture with high investation in the world. The EPA and DHA contents of eels are higher (742 mg/100 g and 1,337 mg/100 g) than those of salmon (492 mg/100 g and 820 mg/100 g). This lead that the eel aquaculture is very prospectus and Indonesia has a potency to be leader in the production of cultured eels in the world.

Keywords: Anguilla bicolor; Glass eel; Elver; Eel aquaculture technology; EPA and DHA nutrition

Abstrak

Sidat merupakan primadona perikanan budidaya Indonesia yang saat menjadi perhatian dunia sejalan dengan menurunnya produksi benih sidat dunia (Eropa, Jepang, Korea dan Cina). Indonesia saat ini diyakini menjadi produser sumberdaya benih terbesar di dunia. Komoditas sidat menjadi komoditas unggulan dengan nilai ekonomis yang tinggi, selain cita rasanya yang unik lezat disukai oleh konsumen Jepang, Korea, Amerika, Eropa, Taiwan dan Cina, sidat juga mengandung nilai gizi yang tinggi. Indonesia memiliki 7 spesies sidat (Anguilla celebensis, Anguilla borneensis, Anguilla interioris, Anguilla obscura, Anguilla bicolor pasifica, Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla marmorata) dari 19 total spesies yang ada di dunia. Indonesia memiliki sumberdaya sidat yang sangat besar karena hampir setiap muara di perairan indonesia terdapat sidat. Sejauh ini Indonesia belum memiliki teknologi untuk pembenihan sidat, masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam. Oleh sebab itu, diperlukan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian sidat agar jangan menangkap benih sidat (glass eel) dan dijual untuk keperluan ekspor. Pakan untuk budidaya sidat terutama pada pemeliharaan glass eel ke stadia elver (fase pentokolan) adalah masih bermasalah. Pakan komersial yang baik dan cocok belum tersedia di pasar lokal/nasional sehingga hal ini mempersulit berkembangnya budidaya sidat di Indonesia. Kunci keberhasilan budidaya sidat adalah pada penerapan teknologi tepat guna budidaya pembesaran dari benih galss eel, juvenil (elver) menuju ukuran konsumsi (200-350 g). Jepang merupakan salah satu negara di dunia yang leading di industri budidaya sidat dengan teknologi budidaya intensifnya yang padat modal. Sidat memiliki kandungan nutrisi yang tinggi (EPA, DHA, vitamin A). Kandungan EPA dan DHA ikan sidat 742 mg/100 g dan 1.337 mg/100 g lebih tinggi dari ikan salmon (492 mg/100 g dan 820 mg/100 g). Fakta ini membuktikan bahwa budidaya sidat sangat prospektif untuk dikembangkan sejalan dengan permintaan pasar yang tinggi dan menurunnya sumberdaya benih sidat dunia. Indonesia diharapkan akan menjadi produser sidat terbesar dunia.

Kata Kunci: Anguilla bicolor; Glass eel; Elver; Teknologi Budidaya Sidat; Nutrisi EPA dan DHA

Click here to download Manuscript

Source